|
|
Bersama dina
1
obrolan kami tertuju tentang
masalah-masalah kehidupan rumah tangga dan seks perkawinan mereka. Kita
sebut saja nama wanita itu Dina (nama samaran). Di dalam obrolan itu, Dina
bercerita bahwa dia menikah dengan seorang laki-laki yang usianya lebih
dari separuh abad, karena paksaan orang tuanya. Dia berkeluh kesah akan
masalah kenikmatan berhubungan intim dengan suaminya, yang menurut dia
egois sekali tanpa foreplay (buka, cium, tusuk, keluar) begitu katanya.
"Mending kalau lama, cuma 2 menit
keluar deh..!" kata Dina dalam pembicaraannya.
Aku menimpali, "Wah, nggak asik
kalo gitu Din..!"
"Iyah nih, Yog, abis gimana lagi..?"
di dalam pembicaraan itu akhirnya aku bisa menangkap kalau Dina membutuhkan
"sex
is warm art not sex is sex".
Pembicaraan kami akhirnya disudahi
dengan akan bertemunya kami di suatu cafe di Jakarta selatan.
Setelah kami ngobrol cukup lama,
kami kemudian saling bertukar nomer handphone dan akan bertemu esok hari
di tempat yang telah kami sepakati. Keesokan harinya aku bangun dengan
segar dan burungku berdiri kencang (butuh sentuhan), dan langsung menuju
kamar mandi.
"Brrr.., segar..." aku membasahi
seluruh tubuhku dengan shower.
Selesai mandi aku mencukur dan merapihkan
bulu-bulu di sekitar dagu dan pipiku. Kupilih kemeja yang kusukai dan celana
jeans, lalu aku semprotkan parfum Hugo kegemaranku. Wah.., aku ingin
kelihatan rapih di depan Dina nanti. Setelah acara dandan selesai, aku
hidupkan mobil VW kesayanganku dan meluncur ke arah sebuah cafe di selatan
pusat perbelanjaan di Jakarta selatan.
Kulihat jam, "Hmm.., masih jam 10
lewat, masih lama." pikirku.
Lalu aku melihat-lihat counter pakaian
dan membeli kemeja dan dasi untuk keperluan kantorku sambil menunggu Dina.
45 menit kemudian HP-ku berbunyi
dan terdengar suara Dina disana, "Halo, ini Yoga..?" katanya.
"Iyah Din.., Kamu dimana? Aku di
lantai satu nih.., Kamu dimana?" katanya.
"Hmm.., Aku masih belanja dulu nih
Din. Sabar yah..!" kataku menenangkan. "Bentar lagi Aku kesana kok..!"
lanjutku.
"Iyah deh, Aku tunggu di Cafe ***
(edited) yah..? Aku laper nih..!" katanya manja. "Kamu pake baju apa..?"
katanya.
"Hmm.., Aku pake hem biru dan jeans
coklat muda." kataku sekenannya, "Kalo Kamu..?"
"Hmm.., Aku pake kemeja biru dan
rok hitam. Rambutku kuikat ke atas." katanya.
"Oke..," kataku, "Sabar yah Din...
bayar dulu nih..!"
"Oke..," kata Dina, "Aku tunggu
yah..?"
Lalu HP-ku kututup dan aku ke kasir
untuk membayar.
Setelah proses transaksi selesai,
aku turun ke bawah sambil membawa beberapa belanjaanku dan menuju cafe
itu. Langkah kakiku semakin dekat. Kupandangi isi dalam cafe tersebut.
Hmm.., ada beberapa orang saja. Lalu di pojok aku melihat seorang wanita
sendiri dan duduk membelakangiku.
"Hmm.., ini dia si Dina..!" kataku
sambil mendekat.
"Pagi..!" kataku, dan Dina akhirnya
menoleh.
"Pagi." katanya.
Lalu aku menyodorkan tanganku dan
menjabat tangan Dina, "Yoga..," aku memperkenalkan diri, dan dia berdiri
sambil membalas, "Dina..."
Hmm... tinggi juga nih Dina pikirku
dengan bentuk tubuh proposional, aku menebak kira-kira 170 cm tingginya,
dengan kulit putih dan mata yang kecil jelas sekali kalau dia adalah keturunan
Chiness.
"Silakan duduk Yog..!"
"Makasih Din,"
"Belanja apa Yog..?"
"Hmm.., ini cuma buat keperluan
ke kantor aja, Kamu tinggi yah..," kataku menimpali.
"Ah kamu tuh... bisa jinjit Aku
kalo pelukan." katanya sambil tersenyum.
"Emang tinggi Kamu berapa Dina..?"
kataku.
"Hmm.., 171 Yog, emang kenapa..?"
"Ah nggak.., cuma Kamu tuh pantesnya
jadi model." kataku.
"Kamu kali.. yang pantes." katanya,
"Terus kalo Kamu berapa Yog..?"
"Aku 186-an deh kalo nggak salah."
kataku seenaknya sambil membaca-baca menu.
"Aku pesen Hot Cappucino.
Kamu mau pesen apa lagi Din..?" aku menawari.
"Hmm Aku nambah Chess Croissant
ajah deh..," katanya kepada pelayan cafe.
"Kamu abis cukuran yah..?" Dina
membuka pembicaraan.
"Iyah.., kok tau sih..?" kataku
sambil menatapnya.
"Iyah dong, ketauan lagi bau aftershape
Kamu." katanya.
Aku hanya tersenyum sambil membakar
sebatang rokok, lalu kutawari sebatang kepadanya.
"Rokok Din..? dan dia mengambil
satu, lalu aku menyulutkan rokokku dan memberinya zippo-ku.
"Huffff.." Dina menghembuskan asap
rokoknya seolah ingin melepaskan semua beban ceritanya kepadaku.
"Hmm.., Aku bosen dengan perkawinanku
Yog..," katanya, "Mungkin Aku kelihatan bahagia, yah..?" katanya.
"Yah.., tampaknya sih begitu Din,
memangnya kenapa..? Apalagi yang Kamu rasakan kurang..?" kataku sambil
menatap wajah Dina lekat-lekat.
"Yah.., Aku kehilangan masa dimana
Aku bisa merasakan suatu hubungan yang "balance", bukan hubungan hanya
sekedar jadi objek seks suami..." katanya.
"Hmm..," aku manggut-manggut, "Lalu
apa kamu udah diskusi dengan suami Kamu..? Sebaiknya Kamu diskusikan saja
Din, bagiku sih lebih baik begitu..."
"Sudah.. Yog.. cuma yah nggak berhasil,
malah Dia nyangka Aku yang hyper." katanya dengan tertunduk.
Jelas sekali Dina menahan suatu kesedihan
dan kekecewaan.
"Hmm.., sabar ajah Din. Itu butuh
waktu kok..!" aku menenangkannya.
Tanganku membelai jemarinya dan
dia tersentak, tapi Dina membiarkanku menggengam tangannya.
"Terus apa Aku salah..?" katanya
dan kulihat matanya mulai berkaca kaca.
"Loh..? Kok Kamu jadi sedih gitu
sih Din..?"
"Aku udah nggak kuat Yog, kalo cuma
dijadikan objek seks ajah." katanya meninggi dan tampak dia begitu emosional.
"Sssttt..." aku menempelkan telunjukku
di kedua bibirnya, "Dina, coba sabar dan cerita yah..!" kataku menenangkannya.
"Hmm.., diusia 20 Aku menikah Yog,
Dengan lelaki yang seharusnya jadi ayahku. Dan 2 tahun Aku mencoba menjadi
istri yang baik buat Dia, tapi kenapa Dia nggak pernah memperhatikan keinginanku
untuk tidak menjadikanku hanya sebagai objek seks Dia dan teman di tempat
tidur saja. Aku butuh lebih dari itu kan.., Yog..? Yah kan..?"
"Iyah, Kamu betul, cuma apa Kamu
nggak ingin mencoba buat berdialog lagi..?" kataku.
"Percuma Yog.., Aku jenuh... Aku
ingin seperti cerita teman-temanku Yog. Yang juga ingin merasakan kesempurnaan
dalam bercinta, tapi Aku belom pernah mendapatkannya." Dina berkata dan
tetesan air matanya mulai berlinang bergulir ke arah pipinya yang putih
bersih.
"Oh.., gosh.. kasian sekali wanita
ini." pikirku.
Aku membelai tetes air mata Dina
dengan sapu tanganku, "Sttt.., sudahlah Din, jelek loh kalo Kamu nangis
gitu..!" kataku menggoda untuk mencoba mencairkan suasana hatinya.
"Igh.., Kamu yang jelek..!" katanya
tersenyum dan mencubit tanganku.
Akhirnya kami tersenyum lagi.
"Eh.. Yog, Kamu orang mana..? Kok
Kamu kaya blasteran gitu sih..?" katanya menyelidik.
"Iyah.., Aku emang blasteran
kok," kataku tersenyum.
"Oh yah..?" katanya, "Hmm.., mana
sama mana Yog..?"
"Blasteran Jawa sama sunda..."
"Hahahhahha..." Dina tertawa memamerkan
deretan gigi putihnya, "Bisa ajah Kamu, Yog..!"
"Tapi yang jelas Aku Indonesia dan
Non Rasial." kataku.
Dina memandangku sambil ikut menggenggam
jemariku.
"Egh.. hmm agh..," aku gugup di
saat Dina mulai mendekatkan diri dan duduk di sampingku.
Hmm.., bau parfum Dina benar-benar
matching
dan kelihatan sekali kalau dia berasal dari kalangan atas.
"Yog..!" katanya agak gugup juga,
"Hmmm.., keberatan nggak Kamu kalo Aku minta sesuatu sama Kamu..?" katanya.
"Apa tuh Din..?" jawabku enteng,
padahal Satelit bawahku sudah salah orbit.
"Gini Yog.., Aku boleh nggak hari
ini merasakan apa yang Aku inginkan..?"
"Hah..? Gila.., terus terang amat
nih cewek..?" pikirku, tapi aku berusaha untuk bersikap wajar.
"Dalam batas gimana Aku bisa bantu
Din..?"
"Yah.., Aku ingin merasakan apa
yang selama ini Aku pendam..." katanya.
"Hmm..," aku berfikir, "Kamu serius
dengan kata-kata Kamu itu Din..?"
"Iyah Yog, Aku sadar dan ikhlas
dengan keinginanku..!" kata Dina.
"Hmm.., oke-lah kalo Kamu mau, cuma
Aku hanya memberikan apa yang Aku bisa berikan untuk membantu Kamu yah
Din..!"
"Makasih Yog..!" Dina tersenyum
padaku.
"Wow..! Mimpi apa nih semalam..?"
pikirku.
Akhirnya kami meninggalkan cafe dan
menuju sebuah apartemen dengan menggunakan Jeep Mercy milik Dina. VW bututku
kutinggal atas permintaan Dina. Singkat cerita, aku meluncur ke arah apartemen
Dina yang ternyata milik Dina pribadi dan jarang ditempati, dia bilang
apartemen itu merupakan pemberian suaminya.
"Gila.., ini sih 25 tahun gajiku
baru bisa buat beli apartemen kaya begini." kataku pada Dina.
"Ah.., ini kan punya suamiku. Aku
sih nggak mampu." katanya merendah.
Akhirnya kami tiba di sebuah ruangan
yang indah, kecil dan tertata rapih. Lengkap sekali, berbeda dengan rumah
kontrakanku. Lalu Dina menawarkanku coke dingin. Aku menerima sambil melihat-lihat
lukisan dan photo yang terpampang di dinding.
Lalu Dina mendekatiku, "Itu suamiku
Yog.., gimana menurut Kamu..?"
"Hm.., tua sekali yah..?" kataku
jujur dan Dina hanya tersenyum kecut mendengar ucapanku.
Lalu dia berusaha menyandarkan tubuhnya
di dadaku. Aku meresponnya sambil memeluk perutnya. Kubiarkan dia bersandar,
lalu sambil mencium rambutnya, kubelai lembut perutnya.
"Hmm.., hmm..," Dina mendesah pelan
dan membiarkan badannya dalam dekapan tubuhku.
Lalu dia membalikkan tubuhnya dan
menatapku. Tangannya membelai pipi, hidung, dan daguku."Dina... hmm..,"
aku menempelkan ujung hidungku yang lancip ke leher Dina.
"Ahh.., sstt..." Dina memejamkan
matanya dan menikmati hangatnya nafas serta dekapanku.
Sekali-kali kutempelkan bibirku
ke lehernya dan kugesekkan pipiku dan daguku, lalu kuciumi bagian telinga
Dina.
"Ahh.., hmm, Yog.., hmm.., Kamu
hangat sekali..." katanya.
Aku menatap Dina. Terlihat sekali
dia menginginkan suatu kehangatan. Lalu aku mengangkat tubuh Dina, kugendong
dan kumelangkah ke arah ranjang Dina. Kuturunkan perlahan dan tubuhnya
kuraih hingga merapatnya dada Dina di ulu hatiku. Kulumat perlahan bibir
Dina dengan lembut dan kutekuni setiap jenjang lekuk bibirnya. Bibir kami
saling berpagutan, tangan Dina merangkul pundakku dan nafasnya mulai tidak
beraturan.
"Oh Yog.., oh... hmm..," desah Dina
yang mulai menghangat.
Perlahan tangan Dina menerobos kancing
kemejaku dan membelai dada serta menyentuh putingku.Aku tersentak dan mendidih
lah gejolak libidoku.
"Ohh Dina.., uhh..," aku melenguh
pelan.
|